oleh

Sambut Hari Anak Nasional 2019, Hal Penting Ini Jadi Fokus Perhatian KPAI

PMJ – Menyambut Hari Anak Nasional yang rutin dilakukan setiap tanggal 23 Juli, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mempunyai beberapa fokus yang penting diingat seluruh lapisan masyarakat, yang menyakut masa depan generasi muda Tanah Air.

Komisioner KPAI Retno Listyarti menjelaskan dalam memperingati Hari Anak Nasional 2019, KPAI berfokus untuk mengangkat kekerasan seksual dan kekerasan fisik yang terjadi pada anak.

Masih dari penuturan Retno, kejadian kekerasan terhadap anak yang bisa terjadi di mana-mana sangat dapat menganggu kualitas generasi penerus bangsa dan masa depan anak itu sendiri.

“Anak-anak harus dibiasakan bicara apa yang dialami. Jadi, anak harus berbicara dan harus diajarkan bahwa bagaian tubuhnya ada bagian yang gak boleh disentuh orang lain. Kalau disentuh, suruh lapor. Disitu bisa mencegah,” tuturnya memberikan contoh, di Jakarta Pusat, Sabtu (20/07/2019).

Ia melanjutkan, yang patut dikhawatirkan yaitu tentang kecanduan gawai. Retno mengingatkan, Kecanduan Gawai ini sudah ditetapkan menjadi penyakit mental terbanyak ke-11 oleh WHO.

Artinya, pengobatan yang dibutuhkan melalui proses rehabilitasi yang sangat berat, lebih berat bahkan dari mengobati kecanduan narkoba.

“Jadi proses penyembuhan kecanduan gadget itu berat, dan kerusakan otaknya lebih banyak. Jadi untuk Kecanduan pornografi, gadget itu bisa bagian otak itu lima yang rusak semua,” ungkapnya.

“Kalau kecanduan narkoba, itu tiga bagian. Kalau narkoba ada obat yang sebenarnya meluruhkan narkoba pada tubuh seseorang, itu dalam proses pengobatan bisa dilakukan. Tapi untuk memperbaiki otak, itu sangat sulit,” tegasnya melanjutkan.

Bahkan, ia bersama KPAI berharap, peringatan Hari Anak Nasional 2019 bisa menjadi momentum untuk mengingatkan kembali seluruh lapisan masyarakat bahwa memberikan hak-hak anak adalah tugas bersama, bukan hanya tugas pemerintah.

Sehingga, tumbuh kembang anak pun akan lebih maksimal, yang pada jangka panjangnya akan memudahkan Indonesia memiliki generasi muda yang lebih berkualitas, dan mendapatkan bonus demografi. (FER).

Komentar

News Feed