oleh

Rekam Jejak Kebrutalan John Kei

PMJ – Polda Metro Jaya menangkap John Kei bersama kelompoknya, pada Minggu (21/6) malam. Mereka diamankan terkait dugaan kasus penyerangan di dua lokasi yakni Green Lake City, Cipondoh, Tangerang Kota dan Cengkareng, Jakarta Barat.

Polisi pun telah menetapkan John Kei dan 29 anak buahnya sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 88 KUHP terkait permufakatan jahat, Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, Pasal 170 KUHP dan UU darurat No 12 Tahun 1951.

Kapolri Jenderal Idham Azis memberikan perhatian khusus terjadinya aksi premanisme ini. Ia meminta jajarannya untuk tidak memberikan ruang terhadap kelompok preman yang membuat masyarakat resah dan takut.

“Kuncinya adalah negara tidak boleh kalah dengan preman,” tegas Idham, Senin (22/6/2020) kemarin.

Sebelum tindak penyerangan ini, John Kei bukan nama asing di dunia hitam. Ia sudah beberapa kali dipenjara. Kasus terakhir yang membuatnya menghuni Nusakambangan adalah tuduhan pembunuhan bos PT Sanex Stell Indonesia (SS) Tan Harry Tanoto atau Ayung.

John Kei, tersangka kasus penyerangan di Komplek Green Lake City, Tanggerang dan wilayah Kosambi, Jakarta Barat (Foto: PMJ News/Ilustrasi/Fif)

Selain Kapolri, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly menyoroti terkait status John Kei yang masih bebas bersyarat. Diketahui, John mendapat pembebasan bersyarat pada Desember 2019 lalu.

“Dia (John Kei) masih (berstatus) pembebasan bersyarat. Tahun lalu kita keluarkan pembebasan bersyarat. Nah, (status itu) dia baru berakhir itu kan 2025. Bebas murni. Tapi ada kejadian ini,” ungkap Yasonna.

Terkait kebijakan yang akan diputuskan, Yasonna mengatakan bahwa Kemenkumham harus mendapatkan masukan berupa hasil pemeriksaan kepolisian.

“Kita tunggu dulu bagaimana polisinya. Kalau polisi nyatakan tersangka, maka dia sudah melanggar ketentuan pembebasan bersyarat. Jadi dia nanti di samping menjalankan hukuman lama ditambah dengan tindak pidana baru,” tutur Yasonna.

Komentar

News Feed