oleh

Komnas PA: Hentikan Eksploitasi Anak Sebagai Manusia Silver dan Ondel-ondel

PMJ – Munculnya anak sebagai manusia silver yang dapat ditemui di perempatan lampu merah serta di tempat keramaian massa dan di daerah pinggiran DKI Jakarta lainnya menjadi masalah sosial baru.

Selain itu, juga munculnya secara massif anak-anak sebagai pengamen yang menggunakan alat peraga ondel-ondel Betawi yang dapat ditemui di pemukiman-pemukiman penduduk di Jakarta, bahkan sudah merambah di wilayah Bogor, Tangerang, Bekasi dan Depok juga merupakan bentuk baru eksploitasi terhadap anak.

Ratusan anak yang dieksplotasi dengan menjadikan anak sebagai manusia silver dan ondel-ondel juga adalah masalah sosial baru berupa praktek eksploitasi ekonomi.

Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak. (Foto: PMJ News).

Dari penelusuran Tim Advokasi dan Litigasi Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) diperoleh informasi, rarusan bahkan ribuan anak dieksploitasi secara sistimatis sekaligus terorganisir.

Untuk diketahui, anak-anak putus sekolah dasar ini didatangkan dari berbagai daerah. Selain disediakan rumah-rumah tinggal berupa sewaan mereka juga disiapkan makan. Demikian juga cat minyak silver, alat peraga ondel-ondel Betawi serta alat musik lengkap dengan pengeras suaranya dan kereta sebagai pendorongnya.

Dari temuan itu, praktek eksploitasi ini adalah fenomena sosial baru di tengah-tengah bangsa ini menghadapi serangan pandemi Covid-19.

“Di samping itu anak-anak yang tereksploitasi ini harus dikategorikan dan ditempatkan sebagai korban sehingga penanganannya menggunakan pendekatan anak sebagai korban dan pendekatan perlindungan anak,” demikian disampaikan Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam siaran persnya, merespon maraknya anak sebagai manusia silver dan ondel-ondel, di Jakarta.

Anak menjadi pekerja ondel-ondel di Jakarta. (Foto: PMJ/ Dok Net/ Istimewa).

Lebih jauh, Arist menerangkan langkah Pemprov DKI untuk mengatasi anak yang tereksploitasi sebagai manusia silver dan pengamen ondel-ondel dengan menggunakan pendekatan razia dan krimimalisasi serta mengirim ke panti-pasti sosial adalah penanganan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah bahkan hal itu justru melanggar hak asasi manusia (HAM) anak.

“Mengingat keberadaan anak yang dieksploitasi itu merupakan tindak pidana maka pendekatan kriminalisasi yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dengan menggunakan Satpol Pamong Praja sesungguhnya harus diberlakukan kepada si pengeksploitasi bukan kepada korban. Sehingga si pelaku atau si pemberi kerja dapat dikenakan saksi pidana,” jelas Arist menambahkan.

Demi kepentingan terbaik anak (the best interest of the child), Komnas PA sebagai lembaga independen yang memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia meminta Pemprov umtuk menghentikan pendekatan kriminal dan kekerasan untuk mengatasi dan menangani anak korban eksploitasi sebagai manusia silver dan ondel-ondel.

Kemudian, menurut Arist, untuk memutus praktek eksploitasi anak model baru ini, Komnas PA mendesak Dinas Sosial dan Satpol PP di masing- masing daerah untuk segera meminta si pemberi kerja untuk menghentikan hal ini. Karena konsekuensi hukum sesuai dengan UU RI.No. 35 Tahun 2015 tentang Perlindungan Anak dan UU RI Nomor 23 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan dan Konvensi ILO No 98 dapat terancam pidana. (Fer).

Komentar

News Feed