Catatan editor: Artikel ini berisi deskripsi grafis tentang kematian. Beberapa tautan menyertakan gambar grafis.
- Pada Februari 2026, pengguna internet membagikan penyelidikan Al Jazeera yang mengklaim bahwa pasukan Israel menggunakan senjata dalam serangan ke Jalur Gaza yang membuat ribuan warga Palestina “menghilang.” Penyelidikan tersebut mengklaim pasukan Israel menggunakan “senjata termobarik dan termal yang secara internasional dilarang” untuk menyebabkan kematian grafis tersebut.
- Senjata termobarik menggunakan dua ledakan untuk pertama-tama menyebarkan bahan mudah terbakar di udara dan kemudian membakarnya, menghasilkan api bola, gelombang tekanan dan vakum yang mencapai suhu tinggi serta menarik oksigen dari udara. Dampak senjata tersebut menurut laporan dapat membuuat tubuh manusia menjadi “hancur“—pulverize—terurai.
- Snopes tidak dapat memverifikasi secara independen klaim Al Jazeera bahwa serangan Israel telah “menghilangkan” ribuan orang di Gaza atau apakah pasukan Israel menggunakan senjata termobarik.
- Seorang juru bicara militer Israel berkata dalam pernyataan tertulis bahwa “IDF dengan tegas menolak klaim yang disebutkan.” Mereka menambahkan bahwa militer Israel hanya menggunakan “munisi yang sah secara hukum” tetapi tidak memberikan komentar mengenai tipe munisi yang digunakan di Gaza.
Pada Februari 2026, sebuah klaim (terarsip) beredar secara online bahwa pasukan Israel telah menggunakan senjata dalam serangan ke Jalur Gaza yang membuat ribuan warga Palestina “menghilang.” Klaim tersebut tampaknya berasal dari penyelidikan oleh Al Jazeera, sebuah jaringan media yang sebagian besar didanai oleh pemerintah Katar.
Menurut penyelidikan jaringan tersebut (terarsip), penggunaan senjata “termal dan termobarik” yang secara internasional dilarang oleh Israel yang menyebabkan kematian grafis itu.
Seorang pengguna yang membagikan klaim tersebut di X menulis, “israel now using ‘thermobaric weapons’ Palestinian’s are now being ‘evaporated’ 2842 turned to dust. Shocking reading.”
(Pengguna X @Fx1Jonny)
Klaim tersebut dan pelaporan Al Jazeera juga beredar di Facebook (terarsip), Threads (terarsip), Instagram, Bluesky (terarsip) dan Reddit (terarsip). Pembaca Snopes menulis, menanyakan apakah benar senjata yang digunakan pasukan Israel di Gaza telah menyebabkan warga Palestina “menghilang”.
Snopes tidak dapat memverifikasi secara independen klaim Al Jazeera bahwa serangan Israel telah “menghilangkan” ribuan orang di Gaza.
Kami juga tidak dapat memverifikasi secara independen penggunaan senjata termobarik di Gaza. Bom-bom yang menjadi fokus penyelidikan Al Jazeera bukan termobarik namun tetap mampu menyebabkan kerusakan dan kematian yang besar. Tinjauan hukum dan laporan media menyarankan bahwa senjata termobarik tidak secara jelas dilarang, seperti yang disiratkan penyelidikan Al Jazeera.
Mengingat hal di atas, klaim ini kami biarkan tanpa penilaian.
Kami menghubungi Al Jazeera untuk rincian lebih lanjut tentang penyelidikannya. Kami juga menghubungi Departemen Luar Negeri AS untuk menanyakan apakah mereka mengirim senjata termobarik ke Israel, sebagaimana beberapa unggahan klaim. Kami menunggu jawaban atas pertanyaan kami.
Menanggapi permintaan komentar tentang penyelidikan Al Jazeera, seorang juru bicara militer Israel berkata dalam pernyataan tertulis bahwa, “IDF dengan tegas menolak klaim yang disebutkan.” Pernyataan tersebut berlanjut:
IDF hanya menggunakan munisi yang sah secara hukum. Bom-bom udara yang digunakan IDF merupakan munisi standar yang digunakan oleh militer lain di seluruh dunia. Secara umum, IDF tidak berkomentar mengenai penggunaan tipe munisi tertentu.
Mengurai penyelidikan
Artikel Al Jazeera mengikuti sebuah penyelidikan yang disiarkan di saluran televisi berbahasa Arab pada 9 Feb 2026, berjudul “The Evaporators.” Penyelidikan tersebut berfokus pada tiga bom buatan AS yang menurut otoritas di Gaza terkait dengan serangan yang jenazahnya telah “menghilang”: MK-84 “Hammer,” BLU-109 “bunker buster,” dan GBU-39.
Artikel-artikel yang merangkum penyelidikan tersebut dalam bahasa Inggris dan Arab (terarsip) keduanya mengklaim bahwa pasukan Israel menggunakan senjata yang disebut termobarik untuk “menghilangkan” warga Palestina.
Senjata termobarik bekerja dalam dua tahap: Pertama, bom mengeluarkan awan besar material peledak yang kemudian dibakar oleh ledakan kedua. Ledakan kedua menciptakan api bola, gelombang ledak dan vakum yang menarik oksigen dari udara sekitar. Bom-bom tersebut menurut laporan dapat “menggiling” tubuh manusia karena suhu tinggi yang terlibat dalam ledakan dan bola api yang dihasilkan.
Menurut tinjauan hukum internasional oleh Arthur van Coller, seorang profesor hukum di Universitas Fort Hare, Afrika Selatan, penggunaan senjata termobarik tidak secara langsung ilegal di bawah hukum internasional. Penggunaannya bisa sah dalam keadaan tertentu dan dengan pertimbangan tertentu.
Al Jazeera melaporkan bahwa Perlindungan Sipil Gaza mengatakan serangan Israel telah “menghilangkan” 2.842 orang sejak perang Israel-Hamas dimulai pada 7 Oktober 2023. Menurut seorang juru bicara, layanan tersebut menyatakan bahwa seseorang dianggap “menghilang” jika para pekerja Perlindungan Sipil hanya dapat menemukan “jejak biologis—percikan darah di dinding atau serpihan kecil seperti kulit kepala,” bukan tubuh utuh atau sebagian ketika menghitung orang-orang yang terlibat dalam serangan.
Bom-bom
MK-84 “Hammer,” BLU-109 “bunker buster” dan GBU-39 — tiga bom yang menjadi fokus penyelidikan Al Jazeera — bukan senjata termobarik. Bom MK-84 dan BLU-109 diisi dengan Tritonal, bahan peledak tingkat militer, yang meledak saat dipicu. Bom GBU-39 memiliki hulu ledak fragmen ledak, artinya menyebabkan kerusakan dengan meledakkan fragmen keluar dari bom saat mengenai sasaran.
Meskipun ledakannya bisa mencapai suhu tinggi, mereka tidak menggunakan teknologi termobarik, yang melibatkan dua tahap ledakan.
Al Jazeera mengatakan telah mengaitkan bom MK-84 “Hammer,” BLU-109 “bunker buster” dan GBU-39 dengan kejadian orang-orang yang “menghilang.” Belum jelas apakah media itu juga mengklaim bahwa bom yang dimaksud adalah termobarik.
Laporan tentang orang yang ‘menghilang’ berawal pada 2023
Sumber-sumber termasuk para peneliti dari Universitas Harvard dan Kantor Komisaris Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menemukan bukti penggunaan bom MK-84 “Hammer” dan GBU-39 oleh militer Israel di Gaza. Pemerintah AS dilaporkan telah mengirim ribuan MK-84 “Hammer,” “bunker buster” dan bom-bom lainnya ke Israel sejak awal perang Israel-Hamas.
Laporan tentang tubuh yang “menghilang” akibat serangan Israel juga bermula tidak lama setelah perang dimulai.
Kementerian Kesehatan Palestina yang dikelola Hamas mengatakan (terarsip) pada 11 Feb 2026 bahwa 72.045 warga Palestina telah meninggal dalam perang Israel-Hamas. (Pada akhir Januari 2026, Israel, yang sebelumnya tidak mengakui hitungan kematian kementerian tersebut, menerima perkiraannya.)
Perang dimulai pada 7 Okt 2023, ketika Hamas menyerang Israel, membunuh sekitar 1.200 orang dan menangkap 251 sandera. Pada Februari 2026, Hamas telah mengembalikan semua 251 sandera tersebut, meskipun banyak yang meninggal sebelum mereka dikembalikan.
Pada saat penulisan ini, Hamas dan Israel telah melanjutkan ke fase kedua dari rencana perdamaian yang diprakarsai AS, yang melibatkan pembentukan “Board of Peace” untuk mengawasi pemerintahan transisi di Gaza. Meskipun ada gencatan senjata, kematian terkait perang di Gaza terus meningkat.
DeepL.com menyediakan terjemahan dari bahasa Arab ke Inggris untuk laporan ini.